sponsoredreviews

Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com

11/24/2013

Ayah, Akhirnya Aku Menikah

Posted by willy setiawan on 14:56 with 1 comment
Mohon dibaca dulu yak - biar lebih menikmati bacanya sambil dengerin lagu disini 
download lagunya disini gratis koq
buat yg mau nonton videonya tar menyusul :D


Sebuah foto yang dipasang di akun Facebook milik Zander & Breck Photography sedang membuat gempar dunia maya. Pasalnya, foto wedding yang diposting oleh mereka kali ini cukup mengharukan dan menyentuh hati.
Sejak diposting 13 Juni lalu, foto ini telah mendapat like lebih dari 700 ribu dan 35 ribu share serta ribuan komentar, bahkan mungkin setelah berita ini diposting jumlahnya semakin bertambah.
Dan dilansir oleh Yahoo.com, foto tersebut merupakan foto klien Kari Wieringa, dari Zander & Breck Photography di mana seorang pengantin sedang menyandarkan kening di makam ayahnya sambil membawa buket bunga.
Lengkap dengan gaun yang dikenakan, wanita tersebut sengaja menyisipkan acara kunjungan ke makam ayah di hari H pernikahannya.
 "Aku hanya ingin memiliki sejenak waktu di hari pernikahanku, sehingga aku bisa merayakannya dengannya, dan merasakan kehadirannya di hari bahagiaku," ungkap si pengantin, yang bernama Paige Eding, 23 tahun.



Tangis haru justru mewarnai prosesi ini, karena keluarga yang menyaksikan dari kejauhan begitu tersentuh melihat momen cinta ayah dan anak ini. Sekalipun sudah meninggal, si pengantin wanita ingin agar ayahnya tahu dan bisa beristirahat tenang karena akhirnya ia menikah dan berbahagia.
Ayah Eding meninggal karena infeksi paru-paru pada Desember 2011, di usianya yang baru menginjak 45 tahun. Kontan saja, hal ini cukup memukul Eding. Karena ia berharap ayahnya dapat menggandeng tangannya dan menyerahkan putri kesayangannya di depan altar pernikahan. Momen itu adalah momen impian setiap pengantin wanita di hari pernikahannya, yang ternyata tak bisa dimiliki oleh Eding.





Anakku,
Ketika aku tua,
aku berharap kau mengerti dan sabar padaku.
Ketika aku memecahkan piring atau menjatuhkan sop dari meja karena penglihatanku berkurang.
Aku berharap kamu tidak berteriak memarahiku,
Orang yang sudah tua sangat sensitif.
Milikilah belas kasih ketika kamu harus berteriak marah.


Ketika lisanku berkurang dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan,
Aku berharap kamu tidak berteriak padaku, “Ulangi apa yang kamu katakan atau tuliskan!”
Aku minta “maaf” anakku.
Aku “menua”.


Ketika lututku melemah, aku berharap kamu sabar membantuku berdiri.
Seperti dulu aku melakukannya padamu, ketika kamu kecil,
Ketika kamu belajar bagaimana berjalan.
Mohon tahan terhadapku.


Ketika aku tetap mengulangi perkataanku mengenai ingatan-ingatanku yang salah.
Aku berharap kamu tetap mendengarkanku.
Aku mohon jangan menertawaiku atau tidak suka mendengarkanku.


Kamu ingat ketika kamu kecil dan ingin balon?
Kamu begitu bertingkah berlebihan, melakukan apapun dan menangis,
sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau.



Aku mohon, maafkan bauku juga.
Bauku seperti orang yang tua.
Aku mohon, jangan memaksaku dengan keras untuk mandi.
Tubuhku lemah.
Orang yang tua mudah sakit ketika mereka kedinginan.
Aku berharap aku tidak mempermalukanmu.
Ingatkah kamu ketika kamu kecil?
Aku mengejar dan menangkapmu karena kau tidak mau mandi.


Aku berharap engkau bisa sabar denganku.
Ketika aku mulai mudah ngambek dan mengomel.
Itu semua bagian dari “tua”.
Kamu akan mengerti ketika kamu semakin tua.


Dan jika kamu memiliki sisa waktu, aku berharap kita bisa berbincang-bincang walau hanya sebentar.
Aku selalu sendiri setiap waktu dan tidak memiliki satupun teman untuk berbincang-bincang.
Aku tahu kamu sibuk bekerja.
Sekalipun kamu tidak tertarik pada ceritaku,
mohon luangkanlah waktu untukku.


Ingatkah kamu ketika masih kecil?
Aku meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritamu tentang mainan dan boneka-bonekamu?
Ketika waktu itu datang, aku sakit dan terbaring di tempat tidur.
Aku berharap kamu sabar merawatku.


Aku minta maaf,
jika tiba-tiba buang air di tempat tidur atau menyusahkanmu.
Aku berharap kamu sabar merawatku sampai akhir hidupku.


Aku akan pergi dalam waktu yang tidak lama lagi.
Ketika waktu kematianku datang,
Aku berharao kamu bisa memegang tanganku
dan memberiku kekuatan untuk menghadapi “mati”.


Dan jangan cemas,
Ketika nanti aku bertemu Tuhan, aku akan berbisik pada-Nya.
Untuk memberkatimu dan merahmatimu,
Karena kamu mencintai ibu dan ayah
Dan jika kamu menikah tanpa ada aku, percayalah aku akan berbisik pada Tuhan "Tuhan, itu putriku yang sedang menikah. Sangat cantik bukan? "
Terima kasih banyak telah mencintai ibu dan ayahmu.
Terima kasih banyak telah merawat kami,
Kami mencintaimu dengan banyak cinta….

-Ibu dan Ayah-
    sumber : heredan : here

1 comment: